Selasa, 26 Januari 2021

Parasitologi

 CACINGAN ADALAH

Cacingan adalah infeksi parasit yang disebabkan oleh cacing yang menyerang manusia. Jenis cacing yang dapat menginfeksi manusia bermacam-macam dan dapat memberikan gejala yang berbeda-beda pula. Hal ini disebabkan oleh adanya perbedaan dari siklus hidup cacing tersebut dan cara cacing tersebut masuk untuk menginfeksi. Kesadaran masyarakat akan pentingnya kebersihan, tingkat sanitasi lingkungan telah membantu mengurangi angka kejadian terjadinya infeksi cacing ini. Di Indonesia sendiri, penyakit yang disebabkan oleh infeksi cacing masih menjadi salah satu masalah kesehatan.
Terdapat beberapa jenis cacing, yang berbeda pula antara gejala, penyebab, dan pengobatannya. Berikut adalah jenis-jenis cacing yang dapat menyebabkan penyakit cacingan:
Cacing gelang (Ascaris lumbricoides)
Telur cacing gelang dapat ditemukan di tanah. Apabila termakan, telus tersebut lalu menetas dan mulai berkembang biak. Gejala awal dapat berupa keluhan batuk kadang dapat diserai darah, demam, dan pada pemeriksaan foto Rontgen dada dapat ditemukan adanya bercak-bercak yang akan menghilang setelah 3 minggu. Gejala ini mucul karena larva dari cacing ini masuk ke dalam paru sehingga mengiritasi paru. Gejala lain yang timbul dapat berupa mual, nafsu makan berkurang, diare, atau bahkan konstipasi. Gejala tersebut mulai muncul saat cacing masuk kembali ke usus.
Pada infeksi yang berat, dapat terjadi gangguan penyerapan nutrisi sehingga penderita tampak kurus dengan perut yang membuncit karena nutrisi diambil oleh cacing. Cacing yang banyak di dalam usus juga dapat menyumbat usus sehingga biasanya penderita mengeluh kembung dan diperlukan perawatan pembedahan untuk menghilangkan sumbatan tersebut.
Telur cacing akan ditemukan pada tinja orang yang terinfeksi oleh cacing ini. Oleh karena itu, untuk menegakkan diagnosis, perlu dilakukan pemeriksaan pada tinja dan dianggap positif apabila ditemukan telur cacing. Terkadang cacing dapat ditemukan keluar bersaa tinja saat buang air besar, atau cacing dimuntahkan saat batuk.
Pengobatan dapat dilakukan dengan memberikan obat cacing. Angka kesembuhan dengan menggunakan obat cacing termasuk tinggi. Angka kejadian infeksi yang disebabkan oleh cacing gelang masih tinggi di Indonesia, terutama pada anak-anak. Hal ini disebabkan karena anak sering bermain di tanah dan kesadaran akan kebersihan yang masih rendah.
Cacing tambang (Necator americanus dan Ancylostoma duodenale)
Kedua cacing tersebut diberi nama cacing tambang karena sering ditemukan pada perkerja tambang yang belum memiliki sanitasi yang baik. Cacing hidup di tanah dan masuk ke dalam tubuh dengan cara menembus kulit, terutama pada orang-orang yang bekerja tidak menggunakan alas kaki.
Cacing yang menembus kulit akan menyebabkan gatal dan kulit tampak kemerahan. Cacing lalu masuk ke paru melalui sirkulasi darah. Gejala pada paru ringan dan sering tidak disadari. Setelah itu, cacing masuk ke dalam usus dan menyedot darah. Hal tersebut menyebabkan keadaan kurang darah atau disebut juga dengan anemia. Gejala yang biasanya dirasakan adalah lemah, letih, lesu, tidak bertenaga, mudah pusing, dan muka yang pucat.
Cacing dewasa akan bertelur lalu ikut keluar bersama dengan tinja. Diagnosis dinyatakan positif apabila pada pemeriksaan tinja ditemukan telur dari cacing tambang. Pengobatan cacing jenis ini dengan pemberian obat cacing dan angka kesembuhannya tinggi. Angka kejadian infeksi karena cacing tambang masih tinggi di Indonesia, karena sanitasi lingkungan yang buruk dan kebiasaan untuk bekerja di tanah tanpa menggunakan alas kaki. Oleh itu, disarankan untuk menggunakan alas kaki.
Cacing cambuk (Trichuris trichiura)
Cacing jenis ini ditemukan terutama pada tanah yang panas dan lembab. Cacing dapat masuk ke dalam tubuh manusia apabila telur cacing tidak sengaja tertelan. Telur tersebut lalu menetas dan menjadi cacing lalu menempel di dalam usus dekat dengan anus.
Infeksi ringan dari cacing jenis ini tidak memberikan gejala. Bilapun ada, gejala yang timbul cenderung ringan. Sering kali infeksi ringan pada cacing ini ditemukan secara tidak sengaja saat pemeriksaan tinja secara berkala.
Pada infeksi yang berat, terutama pada anak, dapat ditemukan gejala diare dan disertai dengan adanya bercak-bercak darah pada tinja. Hal ini diakibatkan oleh perekatan cacing pada usus menyebabkan usus iritasi dan radang serta terjadi perdarahan. Selain itu, cacing ini juga menghisap darah, sehingga dapat ditemukan keluhan kurang darah atau anemia. Gejalanya berupa letih, lemah, lesu, tidak bersemangat, dan mudah pusing. Penderita didiagnosis terkena cacing ini apabila ditemukan cacing pada pemeriksaan tinja.
Awalnya cacing cambuk sulit untuk diobati dan hasilnya kurang memuaskan. Namun sekarang, seiring dengan berkembangnya obat cacing, cacing cambuk dapat dengan mudah diobati dengan hasil yang baik.
Cacing kremi (Enterobius vermicularis)
Cacing kremi dapat masuk ke tubuh manusia apabila telur cacing tersebut tertelan atau telur dari cacing dewasa yang menetas di anus masuk kembali ke dalam usus (infeksi berulang). Waktu yang diperlukan dari tertelannya telur hingga timbulnya gejala adalah sekitar 2 minggu hingga 2 bulan.
Umumnya infeksi cacing ini tidak berbahaya dan dapat sembuh dengan sendirinya apabila infeksi berulang tidak terjadi. Gejala yang dirasakan adalah gatal pada daerah anus akibat migrasi dari cacing dari usus ke anus untuk bertelur. Rasa gatal tersebut menyebabkan penderita sering menggaruk anusnya dan dapat terlihat luka-luka bekas garukan. Keluhan ini terutama terjadi di malam hari sehingga sering terbangun.
Untuk mengetahui apakah penderita positif terkena cacingan jenis ini, pemeriksaan dapat dilakukan dengan menempelkan anal swab pada anus di pagi hari sebelum buang air besar dan mencuci pantat. Hasil positif apabila ditemukan telur atau cacing dewasa. Sebaiknya pemeriksaan dilakukan selama 3 hari berturut-turut.
Apabila salah seorang anggota keluarga terkena infeksi cacing ini, maka sebaiknya seluruh anggota keluarga ikut diberi pengobatan. Hal itu disebabkan karena cacing ini dapat ditemukan pada seluruh bagian rumah penderita dan dapat menyebar dengan mudah melalui kontak dekat dengan penderita. Obat cacing sebaiknya diminum pada pagi hari dan disertai 1 gelas air agar obat cepat mencapai saluran percernaan bawah.
Cacing daun (Trematoda)
Cacing ini dinamakan cacing daun karena bentuknya yang pipih dan simetris mirip dengan daun. Menurut tempat hidupnya di dalam tubuh manusia, cacing daun dibagi menjadi :
1. Trematoda hati, contohnya Fasciola
2. Trematoda usus, contohnya Fasciolopsis buski 
3. Trematoda paru, contohnya Paragonimus westermani
4. Trematoda darah, contohnya Schistosoma japonicum
Cacing dapat masuk ke dalam tubuh manusia melalui makanan, seperti ikan, tumbuhan air, keong air, udang batu, dan ketam yang tidak dibersihkan dan dimasak dengan baik sehingga terdapat cacing yang masih hidup.
Gejala yang ditimbulkan tergantung dari dari lokasi tempat hidup cacing di dalam tubuh manusia dan racun yang dihasilkan oleh cacing. Gejala yang dialami adalah sebagai berikut :
Racun yang dihasilkan akan diserap oleh tubuh sehingga menyebabkan gejala alergi, demam, dan sakit kepala.
Usus: umumnya tanpa gejala ataupun ringan seperti mual, muntah, sakit perut, dan diare.
Paru: dapat menyebabkan gejala batuk yang kadang dapat disertai dengan darah.
Saluran empedu hati: menyebabkan peradangan saluran empedu sehingga dapat menyumbat saluran empedu dan muncul gejala perubahan kekuningan pada tubuh yang dapat dilihat pada mata, rongga mulut, dan kulit. Dapat juga terjadi pembesaran ukuran hati akibat peradangan yang dapat menyebabkan gagal hati apabila terjadi dalam jangka panjang.
Pembuluh darah: menyebabkan terjadinya peradangan pada pembuluh darah yang terkena. Hal tersebut dapat menyebabkan sumbatan terhadap aliran darah.
Diagnosis dinyatakan positif bila ditemukan telur cacing pada pemeriksaan tinja, urin, dan dahak. Untuk pengobatan, dapat diberikan obat cacing.
 

Cacing pita (Taenia saginata dan Taenia solium)

Cacing Teania saginata ditemukan pada sapi, sedangkan Taenia solium pada babi. Cacing dapat masuk ke dalam tubuh manusia apabila memakan daging sapi atau babi yang tidak dimasak dengan matang atau apabila telurnya tidak sengaja tertelan.
Bila sumber infeksi berasal dari daging yang tidak matang, maka cacing akan menjadi cacing pita dewasa di dalam usus. Gejala yang dirasakan biasanya ringan karena berupa infeksi tunggal, yaitu berupa nyeri ulu hati, mual, diare atau konstipasi, dan sakit kepala. Bila sumber infeksi berasal dari telur cacing yang tertelan, maka larva cacing ini dapat menyebar hingga ke mata, otak, otot, hati, paru, dan rongga perut dan memberikan gejala yang lebih berat, seperti sakit ayan atau epilepsi, infeksi otak, radang otot, demam, dan nyeri kepala.
Penderita dinyatakan terkena cacing jenis ini apabila ditemuka telur cacing pada tinja penderita. Pemeriksaan di otak dapat menggunakan CT-scan. Untuk pengobatan dapat diberikan obat cacing. Pada kasus tertentu yang disebabkan oleh larva cacing, dapat dilakukan pembedahan untuk mengangkat larva cacing.

Kamis, 22 November 2012

Spesifikasi Minyak Rem


Terdapat dua macam minyak rem yang umum digunakan oleh dunia otomotif yakni mengandung Polyalkylene Glycol Ether dan Silikon atau Polymer berbasis Silicium. Tetapi minyak rem yang berbahan dasar Polyalklene Glycol Ether lebih popular termasuk dalam dunia racing. Bahan kimia sebagai bahan dasar minyak rem ini serupa dengan bahan anti beku pada radiator coolant (ethylene glicol). Bahan dasar ini termasuk bahan beracun dan perlu seratus tahun bagi alam untuk menguraikannya.
Selain itu minyak rem diklasifikasikan dalam empat kategori: yakni DOT3, DOT4, DOT5.1 dan DOT5. Untuk informasi, DOT merupakan singkatan dari Departement Of Transportation (USA) yang menentukan tingkat spesifikasi minyak rem, semakin tinggi angka yang mengikuti kata DOT berarti pula semakin tinggi titik didihnya.
(AFd, ArisFH)

DOT5
Minyak rem berspesifikasi DOT5 berbahan dasar silikon. Minyak rem ini umumnya digunakan pada kendaraan militer, seperti pada kendaraan tempur angkatan bersenjata Amerika Serikat. Alasannya silikon tak merusak cat permukaan luar kendaraan, hal yang penting dalam penyamaran. DOT5 pun biasanya digunakan oleh show car, ataupun kendaraan yang akan lebih banyak disimpan di garasi, seperti kendaraan klasik.
DOT5 mampu dapat bekerja pada tekanan relatif tinggi namun tidak mempunyai daya lumas yang baik (gesekannya terlalu besar). Karena gesekan antara minyak rem dan salurannya maka membuat pengendara mesti menekan pedal rem lebih kuat agar sistem rem bekerja. Kondisi seperti ini biasa diistilahkan sebagai ‘rem keras’ atau ‘bagel’.
Silikon adalah cairan yang tidak menyerap air (non-hydroscopic), sehingga sifat dan kemampuan silikon stabil pada suhu tinggi. Air pada sistem rem akan membuat titik didih menurun, otomatis berpengaruh pada penurunan kemampuan sistem rem. Seperti diketahui, air akan mendidih pada 100 derajat Celcius, uap air yang timbul karena pemanasan sistem akan membuat vapor lock (resistansi) pada saluran rem. Akibatnya, rem menjadi ‘blong’.
DOT3, DOT4, dan DOT5.1
Minyak rem berspesifikasi DOT3,4 dan 5.1 mengandung Polyglycol ethers yang hydroscopic, artinya mempunyai sifat menyerap air. Bila dicampur/tercampur air, minyak rem tersebut tetap berwujud sama sekalipun sifatnya sudah berubah. Polyglycol hanya berkemampuan setengah silikon dalam menerima tekanan. Hal ini membuat pedal rem terasa tak ‘sekeras’ sistem rem yang menggunakan DOT5.
Untuk mobil racing, dry boiling point menjadi penting. Karena sifat ketiganya yang hydroscopic yang bisa menyebabkan vapor lock, maka untuk itulah para pembalap biasa mengganti minyak rem sebelum iven, tak lain agar performa minyak rem primaa. Sebab saat balap, sistem rem bekerja keras, tak jarang cakram rem sering terlihat merah membara. Meski air akan membuat titik didih minyak rem menurun, namun hal tersebut tidak menjadi isu penting dalam kendaraan harian. Karena setelah pemakaian beberapa bulan, performa minyak rem kemungkinan hanya mendekati titik didih ‘wet’ saja. Tetapi perlu diperhatikan adalah kelembaban udara sebab termasuk faktor yang mempercepat penurunan performa.

Titik Didih
Umumnya pada kemasan minyak rem akan dicantumkan Wet dan Dry Boiling Point. Istilah boiling point atau titik didih menunjukkan suhu di mana cairan mendidih. Pada kondisi ini minyak rem akan mulai menguap sesuai dengan titik didihnya. Wet boiling point adalah titik didih minyak rem yang mengandung air sebanyak 3 % volume. Sedangkan dry boiling point adalah titik didih minyak rem tanpa atau belum terkontaminasi air.

Penggantian Minyak RemMinyak rem perlu diganti karena dua alasan, demi perawatan dan performa. Perawatan, mengganti minyak rem lama otomatis akan membuang air dan kotoran dari sistem rem. Minyak rem lama harus dibilas sebab air yang diserapnya bisa menyebabkan karat pada kaliper dan piston rem.
Performa, memakai minyak rem baru tentu membuat sistem rem kembali bekerja optimal sehingga aman untuk pengereman berat.
Pada kondisi darurat, pencampuran minyak rem bermerek beda namun berspesifikasi sama, dapat dilakukan. Namun, sebaiknya harus segera diganti karena pada dasarnya kita tidak mengetahui secara spesifik bahan dari masing-masing merek tersebut. Jangan pernah mencampur minyak rem berbahan dasar glikol (DOT3, 4, 5.1) dengan minyak rem berbahan dasar silikon (DOT5) karena tidak akan pernah bisa bercampur. Baca buku pedoman penggunaan kendaraan Anda secara seksama tentang pemakaian/penggantian minyak rem.

Titik didih minimum minyak rem yang disyaratkan
DOT 3 DOT 4 DOT 5 DOT 5.1
Dry boiling point 2050C 2300C 2600C 2700C
Wet boiling point 1400C 1550C 1800C 1910C